” IBUTIRIKU IBUKOTAKU “
Pengap,
gelap, becek, dan bau. Itulah yang pertama kali yang saya temukan ketika
menyusuri pinggiran kota Jakarta, Ibukota yang selalu menjadi magnet bagi
jutaan penduduk daerah.
Miris sekali memang
kelihatannya, maksudnya ingin menaklukan Ibukota dengan cara beradu nasib
mencari penghidupan yang lebih baik, tapi bukannya menaklukan tetapi malah
ditaklukan oleh Ibukota.
Teman
saya ada yang pernah berkata seperti ini, “ Sejahat-jahatnya ibu tiri masih
lebih jahat Ibukota “. Mungkin kedengarannya seperti lelucon tetapi jika
ditelaah lebih dalam itu memang kenyataan yang sebenarnya.
Kehidupan di Jakarta
itu sudah bisa ditebak karna cuma ada tiga pola. Sebelum aku menjelaskan
kehidupan yang tiga pola itu ada beberapa teori yang aku dapat dari pengamatanku
selama ini.
Hidup
di Jakarta itu harus mengubur gengsi dalam-dalam, menebalkan wajah
setebal-tebalnya jika ingin mendapat makan tiga kali sehari. Khusus untuk
wanita beruntunglah yang mempunyai body seksi dan wajah cantik karna mencari
pekerjaan pasti mudah, dari yang halal sampai yang haram pasti mudah
mendapatkannya, tapi catat ya khusus yang cantik dan berpenampilan menarik
alias seksi. Otak...??? Bisa nanti-nanti saja dipikirkan yang penting
penampilan yang utama. Karna sebagian besar pekerjaan di Jakarta banyak
didominasi oleh para kaum hawa. Sebut saja : pekerja pabrik, sekretaris, sales,
penjaga toko, pelayan restoran, hingga sopir angkot atau buswaypun banyak yang
perempuan. Beruntunglah kaum hawa.
Kaum
adam..???
Sepertinya harus
mengernyitkan dahi sebentar. Kaum adam dalam pekerjaan biasanya yang paling
pertama dituntut adalah skills, usia, kemampuan otak barulah pada penampilan.
Tidak heran makanya jika kaum adam agak sedikit sulit dalam mencari pekerjaan.
Ok, sekarang akan saya
jelaskan tiga pola penghidupan yang ada dikota Jakarta, saya urutkan dari yang
paling atas dulu ya..???
1.
Sukses
Jika anda adalah
seorang dengan pendidikan yang lumayan, penampilan yang lumayan, skills yang
lumayan, punya daya juang yang tinggi, gigih, ulet, kuat mental, punya wajah
yang lumayan tebal, punya channel atau link (teman) yang bagus dan punya
keberuntungan yang bisa dikatakan bagus, dengan waktu yang tidak terlalu lama
kamu akan menjadi orang yang sukses atau kata lainnya menjadi orang gedongan
(berduit).
2.
Pas-pasan
Jika anda adalah
seorang dengan pendidikan yang pas-pasan, penampilan yang pas-pasan, punya daya
juang yang setengah-setengah, gigih tetapi tidak ulet, kuat mental tetapi masih
mempunyai gengsi yang tinggi dan punya sedikit keberuntungan maka bisa dikatakan
hidup kamu seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama “ Gali Lobang Tutup Lobang “.
Segalanya serba pas-pasan, pas untuk makan tiga kali sehari, pas untuk ongkos
kerja pulang pergi, pas untuk beli baju lebaran, pas untuk beli paket pulsa BB
bulanan yang tidak full service, pas untuk makan bakso berdua dengan pasangan
dimalam minggu. “ Pergi Pagi Pulang Petang Pantat Pegel Penghasilan Pas-pasan,
Dompet Cuma Buat Nyimpen KTP “. Semua serba pas, tidak kurang tidak lebih.
3.
Konglomelarat
Jika anda adalah
seorang dengan pendidikan yang sangat kurang, penampilan yang sangat kurang,
punya daya juang yang tinggi, gigih, ulet, kuat mental, punya wajah yang sangat
tebal tetapi keberuntungan sama sekali tidak berpihak kepada anda maka bisa
dikatakan anda adalah Konglomelarat (sarat kemiskinan). Ingin pulang kampung
tapi sudah terlanjur malu karena semua keluarga dan tetangga dikampung tahunya
anda sudah menaklukan Ibukota, bukan anda yang ditaklukan oleh Ibukota. Alhasil
hanya bisa pasrah nasib dipermainkan oleh Ibukota, menerima apa adanya, makan
sehari sekali saja sudah syukur, dengan lauk tempe goreng.
Begitulah realita dan kejamnya Ibukota, untuk anda-anda
yang ingin merantau dari kampung ke Ibukota cobalah pikir hingga 10.000 kali,
Ibukota tidak cocok untuk anda yang mempunyai perasaan yang lemah lembut, tidak
tegaan, pengiba dan segala perasaan melankolis lainnya.
Ibukota cocoknya untuk
mereka yang berjiwa seperti baja, hati seperti batu, kepala seperti besi, dan
pemimpi yang hebat, bukan haya sekedar jago bermimpi saja tetapi mereka
berjuang untuk mencapai mimpinya. Pagi bekerja seperti hari esok tak pernah ada
dan malamnya mulai menyusun rencana untuk merealisasikan mimpinya. Tak ada kata
istirahat, tak ada kata santai, tak ada kata bersenang-senang dalam hidupnya
sebelum mimpinya tercapai. Manusia yang seperti ini adalah manusia yang
termasuk dalam pola penghidupan yang ke-4.
Anda pasti bertanya, tadi yang saya katakan hanya tiga
dan pola yang saya tuliskan diparagraf sebelumnya juga hanya tiga, kenapa
sekarang ada pola yang ke-4...???
Begini, pola
penghidupan yang ke-4 atau yang terakhir yang saya tuliskan adalah pola yang
amat sangat jarang saya temui di Ibukota tercinta ini. Maka dari itu saya
menuliskannya diparagraf yang berbeda. Karna boleh jadi pola penghidupan yang
ke-4 ini hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menjalankan (lebih bisa
menangkap dan membaca pencerahan dari Sang Pencipta). Bukan sekedar pendidikan,
penampilan atau bahkan keberuntungan semata tetapi mereka-mereka ini adalah
orang yang bisa menghargai hidup dan menjadikan hidupnya berguna untuk dirinya
sendiri.
Itulah sekilas pengamatan yang saya dapatkan setelah
beberapa bulan saya tinggal di Ibukota. Pengamatan singkat dan pengamatan
kehidupan kelas menengah kebawah. Sebenarnya ingin juga mengamati kehidupan
yang kelas menengah keatas tetapi sepertinya Sang Maha Kuasa belum
mengizinkannya. Selain itu juga belum ada kesempatan untuk tinggal dikalangan
menengah keatas supaya bisa mengamati pola penghidupan mereka. Tahu, hanya
sekedar tahu tapi belum begitu memahami.
Toh, kehidupan kelas
menengah keatas sudah banyak yang mengulasnya. Dari novel-novel pop, cerita
kartun hingga buku yang benar-benar mengulas kehidupan high class kota Jakarta
seperti buku yang ditulis oleh Moamar Emka hingga sinetron dan film, saya rasa
itu sudah cukupkan untuk mengetahui pola penghidupan mereka yang kelas menengah
keatas.
Dan lagipula jika saya mengulas kehidupan yang seperti
itu juga, saya sama saja memanjakan generasi muda dengan cara menghayal dan
hanya bermimipi, mimpi terus tetapi tidak tahu kapan dan bagaimana cara
meraihnya. Seolah-olah hidup itu sangat mudah, segala sesuatunya bisa diraih
dengan mudah dan bisa sesuai dengan kehendak yang mereka inginkan, jikaada
kemauan mereka itu tidak tercapai mereka bisa menghalalkan segala cara agar
semua keinginannya dapat tercapai. Padahal kita ketahui semua itu bohong, semua
itu ilusi semata karena didunia ini tidak ada yang bisa kita raih dengan mudah
dan instan. Karena segala sesuatu yang kita dapatkan dengan cara yang mudah dan
instan maka percayalah hilangnyapun akan mudah dan instan pula.
Karena hidup kita yang sebenarnya bukan seperti novel
atau film yang tiba-tiba bisa selalu mendapatkan keajaiban, hal yang sama
sekali tidak masuk akal atau tidak rasional menjadi mungkin seperti contohnya
yang mati bisa hidup lagi lalu ada tokoh yang mirip wajahnya dan menggantikan
tokoh yang mati (sinetron sekali).
Akhirnya generasi muda
hanya jadi tukang mimpi, ibukota dipenuhi oleh pemuda-pemuda yang bisanya hanya
bermimpi saja tanpa ada usaha untuk merealisasikannya, ingin mendapatkan segala
sesuatu dengan instan, menunggu bintang jatuh, padahal bintang yang jatuh tak
pernah jatuh kebawah. Akhirnya karna mimpinya tak kunjung jadi kenyataan, nafsu
usaha dan kerja hilang (padahal malasnya setengah mati), nafsu makan bertambah,
strees, bawaannya mau berantem aja sama orang(tersinggungan), merugikan orang
lain alias memalak supir taxi, tukang ojek hanya untuk beli rokok sebatang(beli
rokok sebatang aja gak mampu dan gak malu lagi minta sama orang lain), karena
gak boleh pulang sama orang tua sebelum dapat pekerjaan akhirnya jadi benalu
disana-sini, nongkrong-nongkrong dipinggir jalan, nyanyi-nyanyi dan bergitar
sumbang di didepan gang, diwarung-warung, mengganggu ketertiban dan kenyamanan
orang lain. Contohnya adalah pemuda-pemuda disamping kost-kostan saya.
HEHEHHEHEHHE....
Sebenarnya saya cuma
mau nyindir pemuda-pemuda disamping kostan saya aja, yang tiap malem gak ada
kerjaan dan cuma bisa bikin ribut aja tiap malem, mending suaranya pada bagus,
ini udah kayak kaleng diseret tronton....
Jakarta, 22 Februari 2013 – Jumat
Jam : 22.37
Natasha Maharani Purmansi
Komentar
Posting Komentar