"TANTE"



“ Koran, koran koran, korannya pak, korannya bu,,,!!!
Pekikku mengalahkan suara deru mobil-mobil mewah yang setiap hari membuat ibukota selalu macet. Sudah tiga jam aku berteriak-teriak tapi koranku masih belum laris juga, sudah hampir tujuh tahun aku menjadi tukang koran. Pekerjaan yang sudah mendarah daging sepertinya.
Dari kecil aku dilahirkan dikota pengap ini, jalanan adalah tempat permainanku. Aku putus sekolah ketika aku duduk dikelas empat SD. Maklum ayahku hanya tukang sol sepatu dan ibuku sudah meninggal sejak aku lahir, itupun kata ayahku.
Karena hari sudah beranjak sore akupun memutuskan untuk pulang, sebelum itu aku akan mampir kekios bang Ucok untuk mengembalikan koran yang belum laku. Lorong-lorong pengap sudah biasa bagiku, selokan berbau busuk teman setiaku yang selalu menyapaku setiap pagi dan sore karena selama empat belas tahun aku sudah menjadi bagian dari mereka.
Ekonomi dan kejamnya persaingan diibukota yang mengharuskan aku tinggal ditempat yang tidak layak bersama ayahku.
“ Bah, tumben kali kau cepat pulang gus, kenapa,,,??? Aii, payah kali kau nih masih muda udah letoy,,,!!!”
Begitulah bang Ucok, walaupun bicaranya seperti orang marah dan wajah garang tetapi hatinya sangat baik dan aku banyak berutang budi padanya.
“ Iya bang, aku capek banget bang, tadi malem aku gak tidur nungguin ayah lagian korannya juga udah lumayan banyak kok lakunya.”
“ Sakit lagi rupanya ayahmu Gus, sudah berapa kali kubilang kau bawa saja ayah kau itu kepuskesmas atau rumah sakit kau ini ngeyel kali.!!”
“ Duit dari mana bang, buat makan siang sama malem aja udah syukur bang, lagian juga aku udah beliin obat diwarung kok, ayahnya juga gak mau dibawa kerumah sakit,”
“Kan sudah aku bilang pake saja duitku dulu daripada ayahmu tak sembuh-sembuh macam itu, sedih kali aku liat ayahku jadi ingat emakku yang ada dimedan sana.”
“ Gaklah bang aku ini udah banyak kali merepotkan abang, nanti aku tak sanggup bayarnya sudahlah utang duit utang budi lagi, duh tambah berat bang.”
Bang ucok hanya tersenyum dan mengusap kepalaku, aku sudah menganngap bang Ucok sebagai abangku sendiri tak jarang aku berkeluh kesah dengan dia. Tak lama dia memberiku dua lembar sepuluh ribuan dan beberapa lembar uang seribuan.
“ Wah, banyak sekali bang, abang salah itung nih,!!”
“ Sudahlah Gus kau bawa saja uang itu siapa tahu bisa untuk tambahan beli obat ayah kau, salam saja untuk ayah kau ya,,,,???”
“Iya, bang makasih bang, aku pulang dulu,”
Aku langsung bergegas membeli makanan dan obat untuk ayahku. Tak lama aku sampai dirumah dan aku melihat ayahku masih sama seperti saat kutinggalkan tadi masih terbaring lemah. Aku langsung membangunkannya dan mengajak ayahku makan.
“Yah, ini bagus ada rejeki sedikit ayo kita makan, tadi bang ucok ngasih bagus agak berlebih.”
“ Iya nak, ucapkan terima kasih ayah kepada dia ya,,??”
Kamipun membuka nasi bungkus itu bersama-sama, dan memakannya dengan sangat nikmat.
“ Sudah lama ayah gak makan seenak ini gus, terima kasih ya,,,??”
“ iyaya yah udah lama kita gak makan telor, biasanya bagus cuma sanggup beli sayur sama tempe aja.”
Percakapan singkatku dengan ayah membuat hatiku getir, hidup yang susah membuat kami hidup sangat sederhana malah bisa dibilang susah. Aku sangat senang melihat ayah makan dengan lahap.  Tiba-tiba dadaku berdesir, ada rasa takut kehilangan yang sangat besar ketika aku melihat ayah, tak biasanya aku seperti ini.
Pagi ini, aku sangat bersemangat sekali untuk menjajakan koran, aku ingin ayah makan ayam panggang hari ini dari uang hasil penjualanku, maka dari itu aku harus berusaha lebih keras dan berangkat lebih pagi dari biasanya.
“ Bah, tumben pagi kali kau datangnya, ada apa Gus,,,???”
“ Gak da apa-apa bang cuma pengen jual koran lebih banyak aja,,,!!!”
“ Wah, bagus itu, coba pegawai aku seperti kau semua pasti aku cepat  jadi orang kaya,,haahahahah,,!!!”
Akupun langsung begegas mengambil tumpukan koran jatahku yang terleta disudut kios dan langsung beranjak dari sana. Seperti biasanya aku mangkal dipersimpangan lampu merah yang selalu ramai sepanjang waktu.
Dan benar baru sebentar saja koranku sudah setengah terjual. Matahari yang mulai meninggi tak kuhiraukan demi ayam bakar untuk ayahku. Aku terus menjajakan koranku kemobil- mobil dan halte-halte bus.
Lelah mulai menjalar dan aku memutuskan untuk beristirahat sebentar, sambil menggajal perut dengan roti seribuan yang kubeli di warung mpok Salmah. Tiba-tiba dihatiku  terbesit rasa takut kehilangan ayah yang amat sangat besar. Akupun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku.
“ Koran, koran, koran,,,!!!”
Tak lama dari kejauhan aku mendengar seseorang memanggil namaku dan benar iru Badrun salah satu temanku sesama penjual koran.
“ Bang Bagus, bang Bagus, dipanggil bang Ucok disuruh pulang,,!!!!”
“ Iya, tunggu,,,!!!”
Ada apa pikirku bang Ucok memanggilku ketika aku sedang berjualan, akupun langsung menuju kekios. Dengan rasa cemas akupun mempercepat langkahku dan “ AYAH”  aku tak mau firasat ini benar dan aku langsung membuang  jauh pikiran itu.
“ Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa denan ayahku, tolong sembuhkan dia Ya Allah.” Doaku dalam hati.
 Tak lama aku sampai dikios dan benar saja bang Ucok sudah menungguku dan wajahnya tersirat rasa cemas yan dalam.
“ Akhirnya kau datang juga Gus, aku sudah cemas kali menunggu kau.”
“ Memangnya ada apa bang, kok tumben abang manggil aku,,???”
“ Kau yang sabar ya Gus, aku tak tega kali ngomongnya dengan kau, sekarang kau mending pulang sajalah. Kau yang sabar ya Gus, kalo ada apa-apa kau jangan sungkan datang ke abang ya. Sekarang kau pulang saja dan kasih saja koran sisa kau ke Badrun. Duit hasil kau jual koran tak usah kau setor keabang kau bawa pulang saja.”
“ Iya bang makasih, aku pulang dulu,,,!!!”
Akupun langsung bergegas pulang kerumah, Banyak sekali pertanyaan yang berseliweran diotakku yang akupun tak bisa menjawabnya. Lorong yang biasa aku lewati setiap pagi kini kurasa semakin pengap, bau selokan yang berbau busuk yang setiap pagi menyapaku kini serasa sangat menyesakkan dada.
Ketika aku hampir sampai dirumah aku lihat orang-orang sudah banyak berkerumun ramai didepan rumahku, akupun langsung berlari menerebos mereka semua dan benar ketika aku sampai didalam rumah aku sudah melihat ayahku terbujur kaku dan telah terbungkus kain putih. Aku langsung memeluk dan menangis dijasad ayahku.
“ Ayah, kenapa engkau tega meninggalkanku sendiri, aku tak punya siapa-siapa lagi selain dirimu yah,,,!!!”
 Akupun menangis sejadi-jadinya dijasad ayahku, tak kutemukan lagi senyum ayah yang riang ketika aku membawakan ia sebungkus nasi untuk pengganjal perut.
“ Sabar, Gus, mungkin ini udah kehendak Yang Diatas, kamu harus bisa nerimanya. Ayo sekarang kita makamkan ayahmu biar ia bisa beristirahat dengan tenang, soal biaya tidak usah kamu piker yo le’, semua biaya pemakaman ayahmu sudah saya urus.”
“ Iya pak RT, terima kasih banyak.”
Aku dan para tetangga akhirnya langsung bergegas mengantarkan ayah keperistirahatan terakhirnya. Ternyata ketakutanku selama ini menjadi kenyataan, aku tak tahu lagi harus hidup untuk siapa dan untuk apa.
Ketika para pelayat sudah pergi meninggalkanku sendiri aku kembali menangis sejadi-jadinya aku mengais-ngais tanah kuburan ayahku, berusaha menggali kembali tanah kuburan ayahku. Aku tidak rela ayah pergi begitu saja meninggalkanku sendiri didunia ini.

Seminggu berselang setelah meninggalnya ayah aku masih merasakan duka yang amat besar. Bang Ucok sangat mengerti sekali keadaanku maka dari itu ia belum menyuruhku untuk kembali bekerja seperti biasa.
Tok, tok, tok,,,
Tiba-tiba pintu rumahku diketuk, akupun segera membukakan pintu untuk tamuku. Agak aneh memang selama ini aku dan ayahku jarang sekali menerima seorang tamu. Dan ketika aku membukakan pintu aku terkejut ternyata tamuku adalah seorang wanita yang sangat cantik.
“ Permisi mas, maaf mengganggu perkenalkan nama saya Irene.”
“ I…. iya maaf  anda cari siapa ya,,,???” Dengan gugup akupun bertanya kepada wanita itu dan mempersilahkan ia untuk masuk.
“ Begini, saya adalah teman lama pak Subari, tadi saya baru mendengar bahwa pak Subari baru meninggal makanya saya langsung kemari.”
Aku tidak pernah menyangka ternyata ayahku punya seorang teman wanita yang sangat cantik.
“ Iya, benar ayah saya baru saja meninggal seminggu yang lalu, maaf  kalau boleh tahu ada perlu apa tante ini mencari ayah saya,,,???”
“ Apakah sebelum meninggal beliau ada menceritakan sesuatu atau menitipkan sesuatu,,,???”
“ Cerita sesuatu,,,??? Setahu saya ayah tidak pernah menceritakan apa-apa kepada saya, memangnya kalau boleh saya tahu tante dan ayah saya ini ada urusan apa ya,,,???
“ Begini, lima belas tahu yang lalu saya menitipkan seorang bayi laki-laki kepada pak Subari. Saat itu saya baru berumur sembilan belas tahun, saya hamil diluar nikah dan saat itu saya sangat kalut dan bingung lalu ketika saya melahirkan saya langsung menitipkan bayi itu kepada pak Subari karena saya tidak ingin mempermalukan keluarga saya selain itu karena pak Subari dulu adalah bekas pegawai ayah saya dulu.”
Dadaku langsung berdegup kencang mendengar cerita dari wanita yang ada didepanku, apakah ini sosok ibu yang selalu kurindukan setiap malam, yang selalu kupertanyakan bagaimana rupanya kepada ayah, yang selalu kumimpikan setiap waktu. Apakah ini sosok ibu yang selalu kunantikan, aku hanya bisa duduk terpaku memandang wanita itu.
“ Bayi yang dulu tante buang sekarang berdiri didepan tante, bayi yang dulu tante tinggal dengan tega ini sekarang sedang menatap tante, bayi yang tante campakkan dengan sengaja kini sedang berbicara dengan tante, bayi yang,,,,,,”
Tiba-tiba wanita itu langsung memelukku dan menciumku sambil menangis, ada rasa aneh yang menjalar dihatiku. Rasa yang selama ini tak pernah aku rasakan.
TIGA BULAN KEMUDIAN
“ Selamat pagi sayang, yuk kita sarapan mama udah masakin nasi goreng buat kamu.”
“ Iya makasih tante.”
Tiba-tiba tante Irene mendekatiku sambil mengusap kepalaku.
“ Nak, apakah kamu memang tidak ingin memanggilku dengan sebutan mama atau ibu,,,??? Mama tahu mama sudah berdosa besar dengan kamu tapi apakah kamu masih belum bisa membuka pintu maafmu untuk mama,,,???
Aku hanya terdiam tak menjawab sepatah katapun. Sudah tiga bulan semenjak kejadian itu aku tinggal bersama tante Irene dirumahnya. Tante Irene yang membuat aku bisa mencicipi kehidupan mewah dan segala fasilitas yang diberikan oleh tante Irene karena ia adalah salah satu pengusaha yang sukses.
Hidup tanpa seorang ibu selama lima belas tahun telah membuatku menjadi asing dengan kehadiran sosok seorang ibu walaupun dulu setiap malam selalu kurindukan kehadirannya.
“ Maaf, tapi saya tetap tidak bisa. Hari ini, esok dan seterusnya saya tetap akan memanggil anda dengan sebutan “ TANTE”,,,!!!!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perahu Kertas

" BODOH "