Maafkan Aku Jika Kau Sepertiku

Jarimu yang tertusuk duri membuatmu perih. Kau agak meringis menahan sakit waktu itu. Kau berusaha mengeluarkan duri yang tertancap dijari kelingkingmu.
Aku hanya duduk terdiam melihat ekspresimu. Aku tidak berusaha melakukan sesuatu untuk membantumu karna aku takut akan tambah melukai jari indahmu. Kau masih terus menyetir mobilmu walaupun aku tahu kau menahan akit waktu itu.
Lalu tiba-tiba kau menggenggam tanganku dan memintaku untuk mengeluarkan duri kecil yang terselip diantara daging jari indahmu.
Akupun meraih jari kelingkingmu yang dua kali lebih besar dari jari kelingkingku. Kutekan-tekan jarimu berulang kali dan kau hanya terenyum menahan perih.
Kutekan jari indahmu sekali lagi lebih keras dari sebelumnya tetapi bukan duri yang menempel pada jarimu yang keluar melainkan darah segarmu.
Kutatap matamu, kutelusuri sampai ketitik hitamnya. Lalu kau hanya terenyum dan menyuruhku untuk menghisap darah yang keluar dari jari kelingkingmu. Aku ragu untuk melakukannya, bukannya aku takut tapi aku tak mau terus menerus menghisap sari pati hidupmu. Tetapi kau terus menyuruhku untuk menghisap darah yang keluar dari jari indahmu yang semakin lama semakin banyak dan mulai menjalar ketanganmu.
Dengan enggan kujilati seluruh tanganmu yang sudah dijalari oleh darahmu. Tetapi sangat kunikmati setiap tetes darah yang menyentuh kerongkonganku.
Sampai dititik sumber lukamu kuhisap setiap darah yang keluar dari jari kelingkingmu. Kau masih sibuk mengemudikan mobilmu tanpa kau tahu apa yang sebenarnya kulakukan. Tak lama duri yang menusuk jarimu bisa kukeluarkan. Kau hanya tersenyum menatapku.
Tak lama kau tepikan mobilmu kepinggir jalan, aku tahu apa yang sedang kau rasakan dan aku tahu kau mulai merasakannya.
Mula-mula kau merasakan pusing yang hebat dan kau berniat untuk istirahat dan tidur sebentar didalam mobil, kuturuti semua permintaanmu dan aku akan menunggumu hingga terjaga kembali.
Maafkan aku sayang, aku hanya tidak ingin seperti duri yang menempel pada jari indahmu dan membuatmu merasaka perih setiap saat.
Cukup sudah aku menjadi benalu dalam hidupmu, cukup sudah aku menjadi lintah yang selalu menghisap sari pati hidupmu.
Aku hanya tak ingin kau terlalu lama terluka karnaku.
Biarkan racunku menyebar keseluruh organ tubuhmu, melewati nadimu dan bercampur dengan sel-sel tubuhmu.
Ketika kau membuka mata maafkan aku jika kau sudah menjadi vampire sepertiku.




Muara  Bungo, Minggu 26 Februari 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perahu Kertas

"TANTE"

" BODOH "