CERITA RIMBI Part I
“ Yah, ibu cantik ya ? “, aku bertanyakepada ayahku yang sedang sibuk membaca koran paginya.
“ Iya, ibu cantik! “. Jawab ayahku sekenanya.
“ Yah, ibu baik ya ? “, tanyaku lagi mengusik konsentrasinya.
“ Iya, ibu baik ! “. Ayah hanya mengulang-ulang pertanyaanku.
“ Yah, kalau ibu baik kenapa ibu ninggalim kita berdua ya ? “. Ayah tak menjawab pertanyaanku, ia langsung melipat koran yang sedang ia baca lalu beranjak meninggalkanku sendiri. Begitulah setiap kali jika aku bertanya mengapa ibu meninggalkan kami berdua.
Ayah tak ingin dan tak pernah mau menjawab, dan aku akupun hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Namaku Rimbi. Kata ayah namaku itu singkatan dari namanya dan nama ibu. Rima dan Bima. Aku memang dibesarkan ayah dari bayi kata pamanku. Ibu meninggalkan kami begitu saja ketika aku masih berusia beberapa hari. Entah apa sebabnya sampai ia meninggalkan kami, tetapi aku tak begitu menghiraukannya karena bagiku kasih sayang ayah sudah lebih dari cukup untukku. Sebenarnya aku dari dulu tak pernah ingin tahu siapa dan bagaimana rupa ibuku yang sebenarnya. Sampai suatu ketika aku menginjak kelas 6 SD. Dikotaku akan ada perlombaan Membaca dan Membuat Puisi Sepropinsi tingkat SD dalam rangka memperingati Hari Ibu. Dan aku terpilih menjadi salah satu pesertanya. Aku bingung ingin membuat puisi apa sedangkan aku sendiri tak tahu rupa ibuku. Semenjak itu aku selalu bertanya-tanya kepada ayah bagaimana sosok ibu yang sebenarnya. “ Yah, ibu Rimbi seperti apa sih ? Ayah photonya gak, Rimbi pengen liat nih ! “. Ayah melirikku dan berpikir sejenak sambil mengerutkam dahinya. “ Ibumu yach seperti kamu cantiknya, ayah gak punya photo ibumu !” “ Kenapa kita gak punya photo ibu yah ?” Tanyaku lagi mengusik keseriusannya mengunyah ayam bakar yang tadi ia masak. Ayahku sangat jago memasak dan masakannya lebih enak dari restoran manapun. “ Ibumu gak pernah mau kalau diphoto, makanya kita gak punya photonya !” “ Masa photo pernikahan ayah sama ibu gak ada juga ? “. Aku masih ngeyel menuntut penjelasan dari ayah. “ Rimbi, ayah sedang makan, tolong jangan bertanya yang macan-macam dulu , nanti selera makan ayah hilang, Nak !”. Dengan nada memohon ayah memintaku untuk tidak bertanya-tanya lagi tentang sosok ibuku. Dan seperti biasa aku hanya bisa menelan kekecewaanku. Aku juga tak ingin membuat ayahku sedih maka dari itu aku tak berniat lagi untuk membicarakannya. Malam ini sudah hampir dua puluh lembar aku menulis sesuatu dikertas dan membuangnya ketempat sampah. Aku bingung ingin menulis apa tentang ibu karna aku memang benar-benar tak tahu ibu itu seperti apa. Waktu terasa cepat berlalu, seminggu sudah terlewati dan lomba Membaca dan Membuat Puisi Sepropinsi tingkat SD dalam rangka memperingati Hari Ibu hari ini dilaksanakan. Aku menggunakan seragam sekolahku yang sudah ayah setrika sangat rapi, dan tadi malam ayah juga sudah menyemir sepatuku. Tepatnya ayah sangat bersemangat sekali mengetahui aku akan mengikuti lomba itu. Hari ini aku dan ayah bergegas menuju gedung kesenian yang terletak dipusat kota. Aku bangga sekaligus kagum karena ternyata ayahku ganteng juga kalau berdandan !. Tak lama kamisampai digedung kesenian tempat berlangsungnya lomba. Ratusan peserta lomba dari seluruh kabupaten tumpah ruah didalam gedung ini. Ayah membantuku mengambil nomor urut peserta dan aku mendapat giliran terakhir, nomor 112. Tak bisa kubayangkan berapa lama kami akan menunggum tetapi ayah selalu menyemangatiku. Akhirnya pukul 14.30 nomor urutku dipanggil. Sebelum aku berjalan menuju panggung ayah menciumku dan member semangat. “ Rimbi, banggakan ayahmu ini !”. Aku menjawab dengan anggukan. Jantungku berdetak dengan keras ketika aku berjalan menaiki panggung. Semua mata tertuju padaku, aku semakin gemetar. Tetapi ketika aku melihat ayah mengacungkan dua ibu jarinya semangatku berkibar.
Hening.
Ibu,,,
Sosok yamg lembut dan penyayang,, Kata mereka,,, Ibu,,, Sosok yang rendah hati dan tak pernah kasar,,, Kata mereka,,,
Ibu,,,
Sosok yang penuh arti dan sangat berpengaruh dalam hidup,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Sosok yang memiliki segudang cinta kasih,,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Rela kelaparan demi anak yang kekenyangan,,,
Kata mereka,,
Ibu,,,
Kasihnya sepanjang jalan,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Tempat berteduh dikala mendung hati,,,
Kata mereka,,,
Ibu sang juara dalam segala hal,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Bisa melakukan pekerjaan ayah tapi ayah tak bisa melakukan pekerjaan ibu,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Selalu memberi tak pernah meminta,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Selalu kecewa tapi selalu tersenyum,,,
Kata mereka,,,
Kata mereka,,,,
Mereka selalu merindui ibunya,,,!!!
Tapi aku tak pernah merasa rindu kepada ibuku sebab aku tak punya ibu,,,
Bagaimana kita bisa merindukannya jika kita tak pernah memilikinya,,,,???
Bagaimana kita bisa mencintanya jika ia tak pernah singgah dihati kita,,,???
Tapi aku adalah orang yang paling beruntung didunia,,, Kenapa,,???
Karena aku mempunyai ayah yang hebat,,,,
Dan ayahku adalah ayah yang terbaik didunia dan ibu manapun takkand sanggup menandinginya,,,
Love you yah,,,
Love you very much,,,
Thank'z for your love,,,
Thank'z for your heart,,,
Thank'z for everything,,,!!!!
BERSAMBUNG
“ Iya, ibu cantik! “. Jawab ayahku sekenanya.
“ Yah, ibu baik ya ? “, tanyaku lagi mengusik konsentrasinya.
“ Iya, ibu baik ! “. Ayah hanya mengulang-ulang pertanyaanku.
“ Yah, kalau ibu baik kenapa ibu ninggalim kita berdua ya ? “. Ayah tak menjawab pertanyaanku, ia langsung melipat koran yang sedang ia baca lalu beranjak meninggalkanku sendiri. Begitulah setiap kali jika aku bertanya mengapa ibu meninggalkan kami berdua.
Ayah tak ingin dan tak pernah mau menjawab, dan aku akupun hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Namaku Rimbi. Kata ayah namaku itu singkatan dari namanya dan nama ibu. Rima dan Bima. Aku memang dibesarkan ayah dari bayi kata pamanku. Ibu meninggalkan kami begitu saja ketika aku masih berusia beberapa hari. Entah apa sebabnya sampai ia meninggalkan kami, tetapi aku tak begitu menghiraukannya karena bagiku kasih sayang ayah sudah lebih dari cukup untukku. Sebenarnya aku dari dulu tak pernah ingin tahu siapa dan bagaimana rupa ibuku yang sebenarnya. Sampai suatu ketika aku menginjak kelas 6 SD. Dikotaku akan ada perlombaan Membaca dan Membuat Puisi Sepropinsi tingkat SD dalam rangka memperingati Hari Ibu. Dan aku terpilih menjadi salah satu pesertanya. Aku bingung ingin membuat puisi apa sedangkan aku sendiri tak tahu rupa ibuku. Semenjak itu aku selalu bertanya-tanya kepada ayah bagaimana sosok ibu yang sebenarnya. “ Yah, ibu Rimbi seperti apa sih ? Ayah photonya gak, Rimbi pengen liat nih ! “. Ayah melirikku dan berpikir sejenak sambil mengerutkam dahinya. “ Ibumu yach seperti kamu cantiknya, ayah gak punya photo ibumu !” “ Kenapa kita gak punya photo ibu yah ?” Tanyaku lagi mengusik keseriusannya mengunyah ayam bakar yang tadi ia masak. Ayahku sangat jago memasak dan masakannya lebih enak dari restoran manapun. “ Ibumu gak pernah mau kalau diphoto, makanya kita gak punya photonya !” “ Masa photo pernikahan ayah sama ibu gak ada juga ? “. Aku masih ngeyel menuntut penjelasan dari ayah. “ Rimbi, ayah sedang makan, tolong jangan bertanya yang macan-macam dulu , nanti selera makan ayah hilang, Nak !”. Dengan nada memohon ayah memintaku untuk tidak bertanya-tanya lagi tentang sosok ibuku. Dan seperti biasa aku hanya bisa menelan kekecewaanku. Aku juga tak ingin membuat ayahku sedih maka dari itu aku tak berniat lagi untuk membicarakannya. Malam ini sudah hampir dua puluh lembar aku menulis sesuatu dikertas dan membuangnya ketempat sampah. Aku bingung ingin menulis apa tentang ibu karna aku memang benar-benar tak tahu ibu itu seperti apa. Waktu terasa cepat berlalu, seminggu sudah terlewati dan lomba Membaca dan Membuat Puisi Sepropinsi tingkat SD dalam rangka memperingati Hari Ibu hari ini dilaksanakan. Aku menggunakan seragam sekolahku yang sudah ayah setrika sangat rapi, dan tadi malam ayah juga sudah menyemir sepatuku. Tepatnya ayah sangat bersemangat sekali mengetahui aku akan mengikuti lomba itu. Hari ini aku dan ayah bergegas menuju gedung kesenian yang terletak dipusat kota. Aku bangga sekaligus kagum karena ternyata ayahku ganteng juga kalau berdandan !. Tak lama kamisampai digedung kesenian tempat berlangsungnya lomba. Ratusan peserta lomba dari seluruh kabupaten tumpah ruah didalam gedung ini. Ayah membantuku mengambil nomor urut peserta dan aku mendapat giliran terakhir, nomor 112. Tak bisa kubayangkan berapa lama kami akan menunggum tetapi ayah selalu menyemangatiku. Akhirnya pukul 14.30 nomor urutku dipanggil. Sebelum aku berjalan menuju panggung ayah menciumku dan member semangat. “ Rimbi, banggakan ayahmu ini !”. Aku menjawab dengan anggukan. Jantungku berdetak dengan keras ketika aku berjalan menaiki panggung. Semua mata tertuju padaku, aku semakin gemetar. Tetapi ketika aku melihat ayah mengacungkan dua ibu jarinya semangatku berkibar.
Hening.
Ibu,,,
Sosok yamg lembut dan penyayang,, Kata mereka,,, Ibu,,, Sosok yang rendah hati dan tak pernah kasar,,, Kata mereka,,,
Ibu,,,
Sosok yang penuh arti dan sangat berpengaruh dalam hidup,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Sosok yang memiliki segudang cinta kasih,,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Rela kelaparan demi anak yang kekenyangan,,,
Kata mereka,,
Ibu,,,
Kasihnya sepanjang jalan,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Tempat berteduh dikala mendung hati,,,
Kata mereka,,,
Ibu sang juara dalam segala hal,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Bisa melakukan pekerjaan ayah tapi ayah tak bisa melakukan pekerjaan ibu,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Selalu memberi tak pernah meminta,,,
Kata mereka,,,
Ibu,,,
Selalu kecewa tapi selalu tersenyum,,,
Kata mereka,,,
Kata mereka,,,,
Mereka selalu merindui ibunya,,,!!!
Tapi aku tak pernah merasa rindu kepada ibuku sebab aku tak punya ibu,,,
Bagaimana kita bisa merindukannya jika kita tak pernah memilikinya,,,,???
Bagaimana kita bisa mencintanya jika ia tak pernah singgah dihati kita,,,???
Tapi aku adalah orang yang paling beruntung didunia,,, Kenapa,,???
Karena aku mempunyai ayah yang hebat,,,,
Dan ayahku adalah ayah yang terbaik didunia dan ibu manapun takkand sanggup menandinginya,,,
Love you yah,,,
Love you very much,,,
Thank'z for your love,,,
Thank'z for your heart,,,
Thank'z for everything,,,!!!!
BERSAMBUNG
Komentar
Posting Komentar