28 SEPTEMBER
28 September 2011, jam : 06.30
Hujan deras tadi malam masih menyisakan bekas-bekasnya. Pagi ini semuanya masih tampak basah. Daun, pepohonan, jalanan bahkan gubukkupun masih basah terkena guyuran hujan semalam. Memang hujan tadi malam itu sangat hebat, hujan deras yang disertai angin dan petir mengingatkanku akan kejadian beberapa tahun silam. Sambil melamun dibawah pohon beringin didekat gubukku, aku mencoba mengingat-ngingat kejadian yang menimpaku dan pacarku ketika itu.
28 September 2008, jam : 09.30
Pagi ini aku senang sekali karena aku akan pulang kerumah nenekku yang ada di Bulian untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga besarku. Pastinya aku tidak pergi sendiri, melainkandengan pacarku tercinta. Kebetulan ia juga ingin pulang ke Jambi kerumah orang tuanya. Maklum tiga hari lagi bulan ramadhan akan berakhir dan diganti dengan hari kemenangan Idul Fitri.
Akupun bergegas menyiapkan tas dan beberapa perlengkapan lainnya yang sudah kusiapkan jauh-jauh hari yang lalu. Tak lama Rianpun datang menjemputku.
“ Gimana sayang, udah siap semua,,???”. Rian langsung masuk kerumahku sambil mencium keningku.
“ Iya sayang, ya udah kita langsung berangkat yuk,,,!!!”. Kami langsung bergegas keluar rumah dan mengunci pintu karena keluargaku sudah berada di Bulian semua jadi rumah kami tinggalkan kosong.
Kupandangi rumahku sekali lagi, hmmm…. Serasa ingin pergi jauh saja sikapku, padahal cuma seminggu aku berencana tinggal dirumah nenek.
“ Yang, bawaan kamu banyak banget sih, kayak mau pergi lama aja,,!!!”. Rian menggodaku sambil memasukkan semua barang-barangku kebagasi.
Akupun hanya tersenyum mendengar ucapannya, sambil kupandangi wajah ovalnya yang manis, jika ia tersenyum lesung pipit akan menghiasi pipinya yang putih itu. Tanpa dia tahu aku sering mengucap syukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan ia untukku.
“ Udah siang nih yank, yuk kita langsung berangkat, ntar kesorean lagi nyampe sananya,,,!!!” Akupun langsung masuk kemobil.
Tak lama mobil Rian sudah melaju dengan pelan dan santai. Aku memang terbiasa dengan Rian menikmati perjalanan dengan santai kemanapun kami pergi. Sepanjang jalan yang kami lihat berjajar pohon-pohon karet yang tersusun rapi.
“ rencananya lebaran pertama kamu kemana yank,,,???”. Aku mulai membuka pembicaraan. Rian melirikku sebentar sambil menyalakan CD untuk membunuh kesunyian.
“ Paling kerumah saudara-saudara mama sama papa yank, tapi sebenarnya sih males kemana-mana, gak enak lebaran gak ada kamu,,,!!!”. Rian menggenggam tanganku dan menciumnya.
“ Huuu, gombal… Tapi nanti lebaran kedua kamu menyusulkukan,,,???”
“ Iyalah sayang, aku gak pernah bisa pisah dari kamu lama-lama, mungkin aku juga bakal ngajak mama dan papa sekalian,,,!!!”. Keluargaku dan keluarga Rian sudah sangat akrab, mungkin karena kami memang sudah lama berpacaran.
“ Boleh- boleh, sekalian nanti pulangnya aku juga gantian kerumah kamu terus kita langsung pulang lagi ke Bungo,,,!!!” Kamipun menyusun rencana yang akan kami lakukan saat lebaran nanti.
Takkan pernah habis air mataku bila kuingat tentang dirimu,,,
Mungkin hanya kau yang tahu mengapa sampai saat ini kumasih sendiri,,,
Adakah disana kau rindukan aku, meski kita kini ada didunia berbeda,,,
Bila masih mungkin waktuku kuputar, kan kutunggu dirimu,,,,
Terdengar lagu Kerispatih mengalun indah menemani perjalanan kami berdua. Dari kejauhan terlihat langit sangat hitam. Musim penghujan memang sudah tiba, tak heran jika tiap hari turun hujan.
Dan benar dugaanku, hujan deras tiba-tiba turun disertai angin dan petir yang sangat kencang.
“ Yang, hujan deras, pelan-pelan aja bawa mobilnya, ntar kalau ada mesjid kita berhenti dulu sekalian shalat zhuhur,,!!!”. Kataku kepada Rian sambil menyenderkan kepalaku kepundaknya.
“ Iya sayang, kita cari mesjid deket-deket sini aja ya,,,???”.Rian mengusap kepalaku sambil tersenyum.
Tak lama Rian menemukan mesjid yang kami cari dan kamipun bergegas turun untuk melaksanakn shalat zhuhur sekaligus berteduh.
28 September 2008, jam : 16.15
Kami melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda, memang tadi dimesjid kami berhenti agak lama untuk menunggu hujan agak reda sekaligus shalat Ashar. Tetapi setelah selesai shalat Asharpun hujan masih turun sangat deras sekali. Akhirnya Rian memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Hari sudah beranjak gelap akupun sedikit mengantuk. Lalu aku menyenderkan kepalaku didekat jendela. Tetapi ketika aku hampir terlelap, aku tersentak kaget karena mobil Rian tergelincir akibat jalanan yang jelek dan licin,
“ Hati-hati yang jalannya,,,!!!”. Aku langsung memegang erat lengan Rian. Rianpun hanya tersenyum dan kembali fokus mengendarai mobil. Tak lama akupun kembali terlelap.
28 September 2008, jam : 21.11
Aku terbangun dari tidurku, tetapi aku sangat terkejut karena mobilku sudah dikerumuni oleh banyak orang. Aku sangat shock ketika melihat mobil yang kami tumpangi sudah terbalik dan didekatnya juga ada sebuah bus yang terlihat sama persis keadaannya dengan mobil kami.
“ Ayo cepat, potong pintunya dan keluarkan orangnya, aku masih melihatnya bernafas,,,!!!” Aku melihat beberapa orang berteriak-teriak dan mencoba mengeluarkan tubuh Rian yang terhimpit mobil. Karena mobil yang kami tumpangi itu rusak parah.
Para petugas medis berlari-lari menuju ketempat Rian untuk membawanya ke mobil Ambulance. Petugas medis itu meletakkan Rian disebelah jasad yang sudah tertutup kain putih. Para petugas langsung memasang alat bantu pernafasan untuk Rian. Aku mencoba menggapai tangan Rian tetapi gagal.
Aku mencoba mendengar percakapan orang-orang disebelahku, kata mereka mobil kami tergelincir dan mobil bus itu menabrak mobil kami yang hilang kendali. Aku menangis tanpa suara sambil memandangi Rian yang sedang berusaha diselamatkan oleh para petugas medis. Aku masih merasakan detak jantung dan hembusan nafasnya walau samar.
Aku mengalihkan perhatianku kejasad yang ada disebelah Rian. Aku mencoba mengenali sesosok tubuh yang sudah tertutup kain putih itu. Tetapi ketika aku ingin membuka kain yang menutupi tubuh tersebut tiba-tiba mobil ambulance itu ditutup oleh salah satu petugas medis dan langsung meninggalkan aku sendiri.
Aku berusaha berteriak meminta tolong sambil berlari mengejar ambulance itu tetapi ambulance itu tak dapat kususul. Aku berusaha memanggil orang-orang yang berlalu lalang disekitarku tetapi anehnya mereka tidak menghiraukan aku sama sekali.
Akhirnya akupun berjalan dan terus berjalan meninggalkan tempat kecelakaan itu. Tak lama aku menemukan sebuah gubuk tua, karena aku kelelahan akupun tertidur digubuk itu.
28 September 2011, jam 08.00
Lamunanku terpecah karena aku melihat ada sebuah mobil yang berhenti didekat gubukku. Samar-samar kupandangi orang yang keluar dari mobil itu. Benar dugaanku, itu Rian,,,!!!
Semenjak dua tahun yang lalu setiap tahun ia selalu mengunjungi bekas tempat kecelakaan kami dulu. Sekedar untu menabur bunga dan berdoa. Akupun bergegas menghampiri Rian yang sedang berjongkok ditepi jalan sambil memandangi lokasi kecelakaan itu. Kupandangi wajah Rian, masih seperti dulu walaupun ada beberapa bekas jahitan didahinya.
Matanya yang coklat berkaca-kaca melihat lokasi kecelakaan kami. Sebelum pulang, ia mengirimiku doa, sejuk sekali rasanya tubuhku mendengar doa-doa yang dikirimnya untukku. Setelah ia selesai berdoa dan menabur bunga, ia langsung beranjak pergi dan meninggalkanku sendiri. Memang setelah kecelakaan itu aku hanya bisa setahun sekali melihat dan bertemu dengan Rian ditempat ini. Karena setelah kecelakaan maut itu aku sudah tidak bisa lagi pulang kerumahku sendiri, aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengan Rian dan bercengkrama dengannya. Karena alam kami sudah berbeda.
Biarlah kusimpan,,,
Sampai nanti aku kan ada disana,,,
Tenanglah dirimu dalam kedamaian,,,
Ingatlah cintaku, kau tak terlihat lagi namun cintaku abadi,,,,
Komentar
Posting Komentar