Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

"TANTE"

“ Koran, koran koran, korannya pak, korannya bu,,,!!! Pekikku mengalahkan suara deru mobil-mobil mewah yang setiap hari membuat ibukota selalu macet. Sudah tiga jam aku berteriak-teriak tapi koranku masih belum laris juga, sudah hampir tujuh tahun aku menjadi tukang koran. Pekerjaan yang sudah mendarah daging sepertinya. Dari kecil aku dilahirkan dikota pengap ini, jalanan adalah tempat permainanku. Aku putus sekolah ketika aku duduk dikelas empat SD. Maklum ayahku hanya tukang sol sepatu dan ibuku sudah meninggal sejak aku lahir, itupun kata ayahku. Karena hari sudah beranjak sore akupun memutuskan untuk pulang, sebelum itu aku akan mampir kekios bang Ucok untuk mengembalikan koran yang belum laku. Lorong-lorong pengap sudah biasa bagiku, selokan berbau busuk teman setiaku yang selalu menyapaku setiap pagi dan sore karena selama empat belas tahun aku sudah menjadi bagian dari mereka. Ekonomi dan kejamnya persaingan diibukota yang mengharuskan aku tinggal ditempat yang tidak layak be...

" MIMPI "

Malam semakin larut ketika nyawa-nyawa telah kembali keperaduan terlelap diselimuti dingin Sendiri meratapi sunyi ketika berharap yang dinanti akan datang membelai hati Terpaku dalam diam melihat mimpi-mimpi mereka yang indah Sedangkan mimpi sendiri masih dibawa oleh yag dinanti Menunggu dan berharap mimpi akan kembali bersama yang dinanti Walaupun mimpi itu selalu terbit dan tenggelam dipermainkan oleh yang dinanti Tetapi aku akan tetap selalu menanti, berharap dan menunggu walau kutahu hanya kosong yang akan kuterima,,,,!!!!

Gerimis Sore Ini

Kulirik ponselku berkali-kali, tak ada tanda-tanda munculnya telpon ataupun sms yang masuk. Rasa cemaspun tak terelakkan lagi. “ Kemana Yudis ya, kok udah tiga hari ini gak ada kabarnya.” Pikirku dalam hati. Sebenarnya dari kemarin aku sudah mencoba untuk pergi kerumahnya tetapi Yudis berpesan untuk tidak menghubungi ataupun kerumahnya dulu, akupun tidak tahu apa alasannya. Tapi rasa rindu ini sudah tak dapat kutahan lagi akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumahnya malam ini. Jakarta memang selalu macet tanpa mengenal waktu dan aku sudah terbiasa dengan hal itu. Laju mobilku terasa sangat lambat, apapun yang kukerjakan tanpa Yudis semuanya terasa sangat lambat. Ketika memasuki pekarangan rumah Yudis kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan disana alias sepi sekali. Akupun langsung turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah yang telah kuanggap rumahku sendiri. Karena aku sudah menganggap Yudis dan keluarganya adalah bagian dari hidupku karena kami sudah lumayan lama berpacaran. ...

Nasionalisme Tak Perlu Banyak Bicara

Prolog : Sore yang indah ditemani kicauan burung terlihat dua orang belia yang sedang duduk dengan kesibukannya masing-masing.Tampak diwajah mereka yang prihatin akan keadaan negaranya yang semakin kacau. Tak lama teman merekapun datang dengan wajah marah dan sama-sama prihatin dengan keadaan pemerintah sekarang. Yogi : (Masuk keruangan sambil marah) " Gila, negara kita nih bener-bener gak jelas banget. Dasar pemerintahnya gak tegas sih, coba sekali-sekali mereka semua dikasih tindakan kek, ini gak,,,!!! Ratih & Tasha : (sama-sama moneleh kearah yogi yang baru datang dan duduk didepan tv) Ratuh : " kamu kenapa gi,,??? Kesambet setan apa dateng-dateng marah-marah gak karuan,,,??? Mana pake ngomongin soal pemerintah lagi, untuk kita gak dizamannya bapak pembangunan,,,!!!" Yogi : ( masih dengan ekspresi yang sama bercampur bingung) Emangnya apa hubungannya sama zaman bapak pembangunan,,,???" Tasha : " Ya kalo kamu nyinggung-nyinggung soal pemerinta...