Dia Briliant Permana

" Cha, yang bener aja loe suka sama yang gituan,,,gak salah,,,??? Strez sih strez tapi gak kayak gitu juga kalee,,,!!!"
Itulah beberapa komentar dari teman dekatku dikantor, setelah setahun putus dengan mantanku aku memang lebih memilih untuk sendiri dulu. Dibenakku hanya terpikir untuk bekerja dan bekerja, tak ada niat lagi untukku bersenang-senang seperti dulu. Time is over waktunya melangkah maju dan memikirkan masa depan meskipun tanpa seorangpun yang mengisi hatiku.
Sampai akhirnya ada seseorang yang datang tanpa sengaja dan mulai mengusik hatiku.
Aneh memang karena kami belum pernah bertemu sekalipun tetapi rasanya kami sudah mengenal cukup lama.
Memang pekenalan yang aku alami dengan Dia sangat aneh dan unik yaitu kami berkenalan melalui situs jejaring sosial.
Dan kalau boleh dibilang sekarangpun aku menjalani hubungan yang cukup aneh dengan Dia.
Tak heran jika rekan-rekan dikantorku banyak yang berkomentar aneh juga tentang hubunganku dengan seseorang misterius disana.
" Cha, loe pikir-pikir lagi deh,,??? Loekan belum tau persis Dia siapa dan latar belakangnya gimana kok loe bisa menyimpulkan Dia seperti itu sih padahal loe aja baru kenal dia beberapa bulan belum pernah ketemu lagi,,,!!! Lagian Diakan jauh lebih tua banget daipada loe cha,,,!!! Duh gw gak abis pikir deh sama jalan pikiran loe yang sekarang,,,!!!
Sebenarnya komentar Dini ada benarnya juga cuma sepertinya aku masih tetap pada pendirianku.
" Din, yang loe bilang tu gw akuin ada benernya juga, gw bisa nyimpulin ke elo kayak gitu karna emang kenyataannya beneran gitu din, gw juga gak perduli Dia mau tua dari gw berapa tahunpun kalo emang gw ngerasa nyaman sama Dia mau apa,,??? Gw udah capek din main-main terus gw pengen punya hubungan yang serius din, gw gak mau kayak gini terus,,,,!!! Ungkapku ke Dini terus terang. 
Setahun berlalu setelah aku beradu argumen dengan Dini, akhirnya aku memutuskan untuk menuruti kata Dini untuk menjauhi Dia walaupun sangat berat bagiku karena hubunganku dengan Dia sudah amat serius.
Seminggu sebelum Dia datang membawa keluarganya untuk melamarku aku memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Dia.
Aku melakukan tindakan itu bukan karena tanpa alasan, tetapi seminggu sebelum Dia mengatakan niatnya untuk melamarku, aku cek up kesehatanku kerumah sakit karena enam bulan terakhir ini aku selalu mengalami sakit kepala yang amat sangat menyiksa tetapi tak satu orangpun aku beri tahu.
" Hasil rontegn mbak Chacha kemarin bisa mbak baca sendiri dan saya harap mbak bisa tabah,,,!!! 
Dokter specialis syaraf itu meninggalkan aku sendiri diruangannya.
Ada tanda tanya besar dihatiku kenapa dokter itu berbicara seperti itu kepadaku.
Perlahan kubuka amplop coklat besar yang ada dihadapanku, dengan perasaan yang galau aku membuka amplop coklat besar yang tergeletak di meja dokter itu.
Kubaca dengan seksama dan ternyata kanker yang telah bersemayam dikepalaku yang membuat kepalaku sering kali mau pecah.
Tak ada tetesan air mata yang jatuh, aku hanya bisa terdiam memikirkan semuanya dan memikirkan Dia. Tak lama dokter itupun masuk dan menjelaskan segala sesuatu yang menyangkut penyakit ini kepadaku. Tak ada reaksi apapun dariku, aku langsung beranjak keluar dan kuharap dokter itu memakluminya.
Sudah enam bulan aku dikota bandung, ditempat dimana semua orang yang mempunyai nasib yang sama sepertiku yaitu mempunyai penyakit kanker.
Aku banyak belajar dari mereka-mereka yang senasib denganku dan yang aku salutkan walaupun dipenghujung umur tetapi mereka tetap masih mempunyai semangat untuk hidup.
Ketika aku sedang duduk sendiri diberanda sambil melihat kelinci peliharaanku, aku dihampiri oleh seorang ibu-ibu yang kutahu ia juga mengidap kanker, mungkin karena aku sangat rindu dengan ibuku dan keluargaku tak tahu kenapa aku merasa begitu dekat dengan ibu ini.
Dua jam tak terasa telah berlalu dan hampir semua alasan kenapa aku ada disini kuceritakan semua kepada ibu itu. Setelah lama kupendam akhirnya berkurang juga sedikit beban yang kurasa. 
Ibu itu hanya tersenyum dan membelai rambutku setiap kali aku mengakhiri ceritaku tanpa memberi komentar sedikitpun.
Ketika hari beranjak sore dan kami memutuskan untuk kembali kekamar masing-masing ibu itu hanya memberi sedikit nasihat kepadaku.
" Nak, ibu harap dengan kamu bercerita kepada ibu, ibu bisa membantumu mengurangi beban yang kamu rasa. Ibu hanya ingin kamu mendengarkan nasihat ibu, jadilah kamu seperti kembang api walaupun nyalamu sebentar tapi bisa menyenangkan hati orang lain, karena ibu yakin semua orang yang kamu tinggalkan sangat menyayangimu. "
Setelah ia memberiku nasihat ibu itupun langsung beranjak meninggalkanku.
Kota Muara Bungo masih sama seperti ketika kutinggalkan tiga tahun yang lalu bedanya kini kota itu lebih maju daripada sebelumnya.
Hampir setengah jam aku dan Dia yang telah menjadi suamiku menunggu omku menjemput kami yang baru tiba dari Jakarta.
Seandainya dulu aku tak bertemu dengan ibu itu pasti cerita hidupku takkan berakhir bahagia seperti ini.
Walaupun aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan yang jelas dipenghujung umurku aku ingin menjadi kembang api untuk Dia Briliant Permana yang telah setia menungguku sampai tiba waktuku nanti.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perahu Kertas

"TANTE"

" BODOH "