CHEONGSAM




Langit begitu gelap ketika aku melongok keluar jendela, sesaat aku terdiam. Ada apa ya kok perasaan aku gak enak,,,???
Akupun langsung keluar dari kamarku dan menuju kedapur. Hhmm, semoga coklat hangat bisa meredamkan peraasaanku pikirku dalam hati.
Hujan memang selalu mengguyur kotaku beberapa waktu ini, maklum mendekati tahun baru imlek biasanya memang selalu hujan. Tetapi mendung yang kurasakan sekarang terasa lain dan sangat tidak mengenakan perasaanku. Untuk mengusir perasaanku yang tidak enak ini sengaja aku menyibukkan diri dengan membaca novel Munir yang memang selama seminggu ini aku sangat rajin membacanya berulang-ulang.
Kulirik jam diponselku, ternyata waktu masih menunjukkan pukul enam sore tetapi langit diluar seperti sudah sangat malam. Oh, aku baru ingat kenapa perasaanku tidak tenang dari tadi ternyata my sweetheart seharian belum memberiku kabar.
Dengan sigap aku memencet nomornya dan menelponnya, kutunggu beberapa saat dan " nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan ". Hmm, aneh pikirku selama empat tahun aku berpacaran dengan Bintang tak pernah sekalipun dia menonaktifkan ponselnya tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
Yaah, aku paham mungkin dia sangat sibuk untuk persiapan imleknya dan akupun tak ingin mengganggu ia dan keluarganya, sebenarnya kemarin aku ingin membantu mempersiapkan acara imleknya hanya saja ia melarangku karna tak ingin merepotkanku.
Sebenarnya aku juga sedang memikirkan pembicaraanku semalam bersama Bintang. Memang aku sedikit agak marah semalam karena Bintang berbicaranya agak ngelantur dan aneh.

" jika aku mati sebelum imlek kamu harus janji ya yank kamu harus pake baju Cheongsam yang udah aku beliin khusus untuk kamu karena kamu cantik banget yank pake baju itu, masalahnyakan aku tahu banget kalo kamu paling susah disuruh pake baju-baju ynag kayak gitu kalo gak aku marah atau aku paksa pasti kamu gak bakal mau".

" apaan sih yank kamu ngomong kayak gitu, gak suka aku dengernya yank, iya aku bakal pake Cheongsam yang kamu beliin kok gak mungkinkan dihari besar kamu aku pake baju kaos sama celana trainingkan,,,???". Bintang tertawa mendengar perkataanku dan akupun ikut tertawa. Begitulah hari-hariku bersama Bintang, ia selalu bisa membuatku tersenyum setiap saat.

Setelah coklat hangat yang ada dicangkirku habis akupun beranjak dari meja makan dan menuju kekamar, sebelum tidur aku mencoba menelponnya lagi dan ternyata masih sama yang menjawab teleponku adalah operator.
Beberapa menit kemudian pintu rumahku diketuk dan aku langsung berlari untuk membukanya, dan benar dugaanku ternyata Bintang yang datang dan aku langsung memeluknya.

" Yank, kok ujan-ujanan gini sih ??? Kamu dari mana kok dari tadi aku telpon ponsel kamu gak aktif,,,??? Ya udah masuk dulu yuk, ganti baju dan keringin badan kamu dulu biar aku bikinin kamu coklat hangat ". Bintang melepaskan pelukanku, semua badannya dingin dan wajahnya pucat sekali. Lalu ia menyentuh pipiku dan mencium keningku.

" Aku gak bisa lama-lama yank, aku cuma mau pamit aku mau pergi yank, kamu jaga diri baik-baik ya,,,???

" Lho, memangnya kamu mau kemana yaank ujan-ujan gini, gak usah yang aneh-anehlah yank,,,???". Bintang tak menjawab pertanyaanku ia malah mengusap rambutku.

" Jangan lupa besok kamu pake Cheongsamnya ya kamu harus tepati janji kamu, sekarang kamu masuk dan istirahat ". Lalu Bintang beranjak pergi dan hilang dikegelapan malam dan derasnya hujan.

Kriiing, kriiing, kriing, telepon kamarku berbunyi. Kulihat sekilas jam wekerku menunjukkan pukul 00.30, siapa pikirku yang menelponku malam-malam begini, tak kuhiraukan dan aku kembali tidur tetapi beberapa saat kemudian teleponku berdering lagi. Langsung kuangkat dan ketika aku membuka mulut untuk memaki sang penelpon diseberang sana, ternyata aku mendengar suara yang sudah sangat akrab ditelingaku, iya itu suara koko Lie kakak Bintang.

" Hallo, udah tidur ras,,,??? "

" Belum ko, ada apa ko kok tumben malem-malem telpon paras,,??? "

" Kalau belum paras bisa keluar sebentar gak,,??? kita kerumah sekarang , oh iya jangan lupa dandan dan pake Cheongsamnya ya,,,??? "

Suara koko Lie serak dan tidak ceria seperti biasanya, ada apa ya,,???

" Lho, acarany sekarang ya ko,,,??? Bukannya besok,,,??? Terus kok koko yang jemput bukannya Bintang,,,??? Gak sopan Bintang tuh nyuruh-nyuruh koko padahal tadi dia udah kesini bukannya jemput Paras sekalian tadi, ya udah koko tunggu bentar ya paras mao siap-siap dulu ".

" Bintang tadi kerumah kamu ras,,??? Kapan dan jam berapa,,,??? ". Koko Lie sangat terkejut dan aku bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dari nada bicaranya.

" Iya ko, jam 9 tadi. Udah gitu dia pake pamit-pamit segala lagi katanya mau pergi padahal ujan deres tadi ko, hallo ko,,??? Kok diem ko,,,??? ". Tak ada jawaban disana untuk beberapa saat, tetapi akhirnya koko Lie berbicara juga.

" Ya udah kalo gitu ras, koko tunggu dimobil cepat ya,,,???"

Aku langsung menutup telpon dan berdandan secantik mungkin, Bintang pasti kaget aku bisa menjelma jadi putri-putri yang ada kerajaan China, heheheh. Tak lama aku keluar dan menuju mobil, sesampainya dimobil koko Lie langsung tancap gas dan disepanjang jalan hanya aku saja yang mengoceh. Agak aneh memang tidak biasanya koko Lie menjadi pendiam seperti ini karena yang kutahu koko Lie adalah teman ngobrol yang asyik.
Sesampainya dirumah Bintang, aku melihat semua keluarga besar Bintang sedang berkumpul dan mereka menatapku dengan pandangan aneh tidak seperti biasanya dan memang tidak seperti biasanya koko Lie mengajakku masuk kerumah lewat pintu belakang.
Mami Bintang langsung memelukku sambil menangis tersedu-sedu, aku masih bingung dengan keadaan yang tiba-tiba aneh seperti ini. Aku dibimbing keruang tengah oleh koko Lie dan disana aku melihat peti berwarna hitam yang mengkilat dan berukir indah, dan aku langsung bergidik ketika aku mengetahui bahwa itu adalah sebuah peti jenazah.  Dan ketika aku melihat lebih dekat, samar-samar aku melihat sesosok wajah yang sangat aku kenal terbujur kaku menggunakan setelan jas yang sangat rapi, aku masih belum percaya dengan pandanganku, perlahan-lahan koko Lie membuka kain yang menutupinya dan benar wajah itu benar-benar sangat kukenal.
Tiba-tiba dunia seperti berputar, aku terjatuh dan air mataku tiba-tiba tak bisa terbendung lagi, aku menangis sejadi-jadinya aku menghampiri peti itu dan berusaha memeluk tubuh Bintang yang sudah terbujur kaku, tetapi koko Lie dan papi Bintang berusaha dengan susah payah menenangkanku.
Ternyata pertemuanku dengan Bintang semalam adalah pertemuan terakhirku, dan ternyata benar ia datang dan berpamitan denganku memang untuk pergi,  meninggalkanku selama-lamanya.
Xincia kali ini adalah xincia terakhir yang kurayakan dan Cheongsam ini juga Cheongsam terakhir yang akan kupakai
Pagi ini hujan mengguyur kotaku lagi,dan aku masih memakai  Cheongsam yang sama pada malam xincia itu dan aku berjanji takkan melepaskannya sebelum aku melihat Bintang menjadi abu.



Muara Bungo, 03 Februari 2011,,,
Gong Xi Fat Chai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perahu Kertas

"TANTE"

" BODOH "